Upayakan bilang tidak
Upayakan tidak.
Tidak semua hal bisa kita katakan ’ iya’ untuk m enanggapi seseorang.
Pagi hari ini aku rajin sekali membrsihkan rumah, mencuci baju, dan rebahan. Tak heran banyak orang
berkomentar agak gendutan karena aktivitas rebahan yang membosankan. Meskipun rebahan ku pun
aku isi dengan scroll beranda akun sosial media ataupun mencari tontonan yang bisa menjadi tuntunan.
Menjelang siang hari aku teringat dengan janji kepada adik kelasku untuk memberikan link dan
sepengatuan tentang Kartu Indonesia Pintar -kuliah atau KIP-K. karena aku tidak bisa membalas pesan
satu per satu dari adik kelasku, maka aku putuskan untuk membuat carita di Whatsapps. Dan yang tidak
ku sangka tiada ku duga banyak respon dari adik kelasku maupun teman satu angkatan.
Pengedukasian tentang KIP-kuliah ini berawal dari pembahasan tentang kuliah. Begitu antusias respon
mereka tentang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Aku senang membantu mereka untuk
berbagi pengetahuan yang ku miliki kepada mereka semua. Dari perihal pendaftaran sampai dengan
cara masuk dan pendataan data diri mereka.
Dimulai dari Aini dan dilanjut oleh Noval kemudian disusul kawan-kawan yang lain. Kenapa mereka
bertanya kepadaku ? karena memang aku dekat dengan para adik kelasku. Aku merasa mereka lebih
paham tentang menyikapiku dan cara bergaulnya. Tapi bukan berarti aku suka dengan sosok orang yang
lebih muda dari usiaku loh ya.
Setelah usai membahas tentang KIP kuliah berbincang sebentar tentang cuaca, masalah pribadi, topik
yang sedang hangat dan sebagainya. Tiba-tiba muncul pemberitahuan pesan dari mas Widad tentang
sebuah agenda kegiatan dan nomor Whatsapp yang baru dari Kak Huda. Aku membalas terimakasih atas
pemberitahuan dari mas Widad.
Ku lihat agenda yang diberikan oleh mas Widad bertabrakan dengan agendaku yang lain. Segera aku
konfirmasikan dengan kak Huda untuk bagaimana enaknya. Sampai saat ini pun kak Huda belum juga
membalas pesan dari ku.
Asyik termenung tersadar bahwa hujan turun dan aku ingat betul memiliki jemuran di luar rumah.
Segera aku bergegas mengambil jemuran tersebut. Sukurlah masih ada waktu dan belum telat untuk
menyelamatkannya.
Hujan pun masih belum reda sampai saat ini, tetesan demi tetesan air masih membasahi bumi. Udara
pun terasa dingin menyejukkan hingga serasa yang enak yang hangat-hangat dan tidurlah jadi
pelampiasan.
Sore hari ini aku ada kelas tafaqquh fiddin, yang sebenarnya jam 15.30 molor penyampaian materi
karena kendala jaringan dari mentor. Maklum saja hari ini hujan deras lebat mengguyur wilayah Jateng
Jatim. Tapi ada untungnya juga jadi bisa agak santai-santai.
Notifikasi muncul ternyata pesan dari adik kelasku yang minta tolong dibuatin tugas sekolahannya. Aku
pun difotoin tugas bacaan dan soalnya. Batinku heran, ini siapa yang sekolah siapa yang disuruh ngerjain
tugas. Aku mengiyakan, tapi dengan jawaban foto yang kurang jelas akhirnya dia datang ke rumahku.
Dan pasti sudah ketebak bahwasanya aku pun juga sibuk hari ini.
Dengan santai aku tidak memprlihatkan dimana jawaban soal tersebut, tapi aku arahkan bagaimana cara
menjawab soal tersebut. Aku tau perasaannya pasti kocar-kacir karena aku menyuruhnya untuk mengisi
sendiri. Bukan maksud apa, aku hanya ingin melatih kemandirian dari adik kelasku tadi. Dia pun masih
belum mengerjakan dan akhirnya dia pulang hanya dengan tugas yang dikerjakan sedikit saja.
Pesanku hari ini, kalau itu nggak sesuai passion kita kenapa harus kita takut bilang tidak. Terkadang kita
mempertimbangkan banyak hal untuk berkata tidak dalam membantu seseorang. Tapi kamu juga akan
membebani dirimu sendiri jika memaksakan kehendak yang bukan kemampuan kamu.
Komentar
Posting Komentar